Raja dan Laba - laba

on Selasa, 16 Juni 2009

Dahulu kala di negeri Skonlandia, ada seorang raja bernama Bruce.

Dia sudah enam kali memimpin pasukannya menuju medan perang melawan sang agresor dari England, namun selama enam kali pertempuran itu, pasukannya selalu babak belur dihajar oleh musuh, hingga terpaksa mengalami kekalahan dan melarikan diri ke hutan.

Akhirnya, dia sendiri juga bersembunyi di sebuah gubuk kosong di dalam hutan belantara.

Suatu hari, hujan turun dengan derasnya, air hujan menerobos dari atap rumah yang bocor mengenai muka Bruce, sehingga dia terbangun dari tidurnya. Sesaat dia merenungi nasibnya yang malang karena tidak dapat mengalahkan musuh, walaupun dia telah mengerahkan segala daya upaya.

Semakin dia memikirkan hal ini, hatinya semakin pedih dan hampir putus asa.

Pada saat itu, mata Bruce menatap ke atas balok kayu yang melintang diatas kepalanya, disana ada seekor laba-laba sedang merajut sarangnya.

Dia dengan seksama memperhatikan gerak gerik laba-laba tersebut, dihitungnya usaha si laba-laba yang telah enam kali berturut-turut berusaha sekuat tenaga mencoba mengaitkan salah satu ujung benang ke balok kayu yang berada di seberangnya, namun akhirnya gagal juga.

“Sungguh kasihan makhluk kecil ini.”

kata Bruce, “Seharusnya kau menyerah saja!”

Namun, sungguh diluar dugaan Bruce, walaupun telah enam kali si laba-laba gagal mengaitkan ujung benangnya, dia tidak lantas putus asa dan berhenti berusaha, dia coba lagi untuk yang ke tujuh kalinya, dan kali ini dia berhasil. Melihat ini semua, Bruce sungguh merasa kagum dan lupa pada nasib yang menimpa dirinya.

Bruce akhirnya berdiri dan menghela napas panjang, lalu dengan lantang dia berteriak: “Aku juga akan bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!”

Bruce akhirnya benar-benar mendapatkan semangatnya kembali, ia segera mengumpulkan dan melatih lagi sisa-sisa pasukannya, lalu mengatur strategi dan menggempur lagi pertahanan musuh, dengan susah payah dan perjuangan yang tak kenal menyerah, akhirnya Bruce berhasil mengusir pasukan musuh dan merebut kembali tanah airnya.

Note :

Dalam kehidupan, manusia terkadang mudah mengeluh dan meyerah dengan situasi. Tapi dengan dorongan akan orang-orang yang kita cintai di sekitar kita, semangat kita akan bangkit kembali dan meraih kemenangan.

Bila Cinta Berbicara

Bila Cinta Berbicara

Suatu ketika, seorang wanita kelihatan amat sedih. Wajahnya kusut masai. Air mukanya letih menahan tangis. Rupanya, dia baru saja kehilangan anak tercintanya untuk selama- lamanya.

Atas nasihat orang di desa, ia menemui seorang tua bijak di pinggir hutan. Mereka berkata, siapa tahu orang bijak itu dapat membantu menyelesaikan masalahnya. Kerana merasa amat cinta kepada anaknya yang telah mati itu, ia amat berharap agar dapat bertemu dengan orang bijak itu. Ditempuhlah perjalanan yang jauh dengan cepatnya.

Sesampainya disana, dia bertanya, “Guru, apakah Anda memiliki ramuan ajaib untuk mengembalikan anakku?”

Sang Guru tidak berusaha untuk berbalah atau menghalau wanita itu kerana permintaannya yang tidak masuk akal.

Dia cuma berkata, “Carilah bunga merah dari rumah yang tidak mengenal “kesedihan”. Setelah kamu bertemu bunga itu, kita akan bersama-sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan kembali puteramu.”

Selesai mendengar itu, wanita tersebut segera berangkat mencari kemahuan sang guru.

Dalam perjalanan, dia nampak bingung. Tak ada satu petunjuk pun tentang di mana dan bagaimana bentuk rumah itu. Hinggalah, dia tiba di depan rumah mewah.

“Mungkin, penghuni rumah itu tak pernah mengenal kesedihan,”ucap wanita itu dalam hati.

Setelah mengetuk pintu, dia berkata, “saya mencari rumah yang tidak pernah mengalami kesedihan. Inikah tempatnya ?”

Wajah sang wanita masih memperlihatkan raut bersedih. Dari dalam rumah, terlihat wajah yang tak kalah sedih.

Pemilik rumah itu menjawab, “Kamu datang ke rumah yang salah.”

Pemilik rumah itu bercerita tentang tragedi yang dialami keluarganya . Ia tak hanya kehilangan seorang anak, tapi juga suami dan kedua orangtuanya kerana kemalangan. Si wanita berasa amat kecewa.

Namun, dia menjadi terharu dengan cerita tuan rumah. Ia berfikir, “Siapa yang boleh membantu orang yang nasibnya lebih malang dari saya ini?”

Dia memutuskan untuk tinggal di sana dan menghiburkan pemilik rumah itu. Beberapa hari lamanya, dia bersama wanita pemilik rumah itu, saling bantu-membantu untuk menjalani hidup.

Beberapa minggu berlalu, wanita itu pun berasa si tuan rumah sudah kelihatan lebih baik. Lalu, ia berangkat lagi mencari rumah berikutnya. Tetapi, ke mana pun dia pergi, selalu bertemu kesedihan orang lain. Akhirnya, dia berasa bertanggungjawab untuk menghiburkan semua orang yang dikunjunginya. Hingga akhirnya, dia pun melupakan misinya.
Note :
Kita belajar makna cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya dalam dukungan. Kedua belah tangannya sibuk membetulkan selimut si bayi. Dalam dadanya tiada sesuatu selain ketulusan memberi atas nama cinta.

Kita belajar makna cinta dari seorang ayah yang membawa pulang sekarung padi dan sejag air setelah seharian berpenat-lelah di sawah. Dalam dadanya, tiada sesuatu selain kegembiraan memberi atas nama cinta.

Kerana cinta bukan hanya sekadar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh romantis. Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi. Dari cahaya matahari, dari sepasang merpati, dari sujud dan tengadah doa. Dari apapun!

Pada semua kelahiran yang bersambut dengan cinta, hingga kematian dalam cinta, kita dalam hidup ini, tiada lain selain mewujudkan cinta.

Kerana itu, tiada yang boleh kita lakukan selain atas nama cinta kita yang teragung: cinta buat Yang Maha Agung, Allah SWT.

Apapun keputusan-NYA buat kita, Allah yang berbicara, yang menentukan untung-nasib kita, kerana setiap sesuatu yang menyedihkan itu ada hikmah-Nya.

Kisah Seorang Ibu

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua”,jawab ibu itu.” Wouw… hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu??Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ??? “

….Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
” Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

Note :

Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN”

Buta Mata Tidak Bererti Buta Hati

on Jumat, 27 Maret 2009

Buta Mata Tidak Bererti Buta Hati
Nawawi Dusuki



"Marhaban biman 'atabani rabbi," demikian ucapan Nabi Muhammad s.a.w. setiap kali baginda bertemu orang itu.

Ucapan demikian khusus kepadanya sahaja dan tidak baginda lakukan demikian pada para sahabat.

Ucapan "selamat datang untuk orang yang olehnya aku mendapat teguran ALLAH," terjadi satu peristiwa yang berlaku ketika Nabi masih berada di Mekah dan dakwah Islam baginda menerima gangguan terus-menerus. Nabi Muhammad s.a.w. sedang melakukan dakwah kepada beberapa tokoh-tokoh Quraisy agar mereka memeluk Islam di antaranya adalah Abu Jahal dan Atabah bin Rabi`ah; pemuka golongan Musyrik.

Tiba-tiba datang seorang buta bernama Ibnu Ummi Maktum. Ia mendekati orang ramai yang berada di situ lalu berkata kepada Nabi:

"Ajarkan padaku ,ya Rasulullah apa yang diajarkan Allah kepada engkau."


Nabi tidak mengindahkannya. Rupanya baginda lebih mengharapkan tokoh-tokoh Quraisy itu dahulu sehingga tidak memberi perhatian kepada si buta tersebut. Kerana jika mereka masuk Islam, tentu ramai yang lain akan mengikutnya,demikian yang terfikirkan oleh Nabi ketika itu.

Sikap baginda itu tidak dibenarkan Allah. Allah s.a.w. dengan segera menegur kepada Nabi dengan menurunkan ayat dan menghendaki Nabi merubah sikap baginda.

"(Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Kerana orang buta datang kepadanya. Barangkali, siapa tahu, beliau ingin membersihkan jiwanya. Atau ingin mendapat pelajaran bermanfaat (untuk dirinya). Adapun orang yang merasa dirinya kaya itu, engkau datang menghadapinya.Tidak ada (celaan) pada engkau bila beliau tidak membersihkan jiwanya. Orang yang datang pada engkau dengan kesanggupan usahanya,sedang beliau takut pada Allah, maka engkau tidak mempedulikannya. Sekali-kali tidak(begitu hendaknya)! Sesungguhnya (ajaran-ajaran Allah) itu adalah suatu peringatan."


Demikian ayat teguran Allah kepada Nabi yang di sebut dalam al-Quran, surah Abasa. Ayat ini telah menyedarkan Nabi dan baginda bertemu akan si buta itu dan Nabi s.a.w. ucapkan "marhaban biman atabani rabbi".

Padanya juga baginda ajarkan agama Islam seperti para sahabat yang lainnya. Pada suatu hari Jibrail datang mengunjungi Rasulullah s.a.w. ,sedangkan Ibnu Ummi Maktum berada dekat baginda.

"Sejak bila engkau tidak melihat," demikian ditanyakan padanya.

"Sejak saya masih kecil," jawabnya.

Lalu disampaikan kepadanya Hadits Qudsy. "

Bila Aku (ALLAH) ambil apa yang dimuliakan dari hamba-KU,gantinya nanti ialah Syurga (kalau beliau sabar)."

Di waktu lain pula ketika baginda hendak ke medan perang, Ibnu Ummi Maktum diangkat baginda sebagai Gabenor Tentera Madinah.

Semasa dalam pimpinannya itu, ketika solat Jumaat beliau sendiri yang membaca khutbah. Demikianlah beliau mendapat penghargaan dan Allah sudah menghargainya. Namun demikian Ibnu Ummi Maktum sedar akan dirinya dan beliau tidak lupa daratan atau menyombong diri. Sewaktu beliau berkhutbah jumaat, beliau tidak mahu menaiki mimbar yang selalu dipakai Nabi. Cukup dgn beliau berdiri di samping mimbar itu. Tetapi kerjanya sebagai muazzin adalah yang paling disukainya.

Nabi mempunyai muazzin yang lain iaitu Bilal. Kerana itu, Baginda telah memberi ketentuan waktu masing-masing.

"Bilal azan di waktu malam,maka makan dan minumlah kamu(untuk puasa) sehingga tiba giliran Ibnu Ummi Maktum (azan subuh)," perintah Nabi kepada kedua mereka.

Teguran Allah kepada Nabi sewajarnya menjadi peringatan kita bahawa orang cacat,miskin, atau orang kecil sekalipun jangan diabaikan kerana mungkin mereka juga kuat beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka sedia berkorban pada agama Islam. Sesungguhnya kejadian ini dijadikan teladan yang baik hendaknya bagi kita umat Nabi Muhammad s.a.w.


* Sumber: Buku "Kisah Ringkas Kehidupan Rasulullah s.a.w." karangan Nawawi Dusuki.