PANTAI PASIR PUTIH SITUBONDO

on Senin, 02 Maret 2009

Lokasi :
Pasir putih terletak di kabupaten Situbondo Jawa Timur, lebih kurang 260 km atau 5 jam perjalanan darat dari kota Surabaya.

Transportasi :
Dari sisi transportasi hampir tidak ada masalah yang berarti, angkutan umum sangat banyak yang melayani rute tersebut, terutama angkutan umum jurusan Surabaya Banyuwangi, hampir pasti akan melewati Taman Wisata Pasir Putih.

Objek Wisata :
Pasir putih merupakan area wisata pantai, sehingga objek yang di jual adalah pemandangan alam pantai, mulai bermain di area pantai yang dangkal, berperahu melihat taman karang hingga berenang (diving) bagi yang suka menyelam untuk menikmani pemandangan taman laut. Pantai ini sangat cocok sebagai taman mulai dari anak-anak hingga dewasa karena pantai pasirnya landai, dangkal dan sangat bening. Ombak di pantai ini juga tergolong tenang dan tidak berbahaya.

Fasilitas / Sarana :
Di area taman wisata, dilengkapi dengan berbagai sarana seperti Penginapan / Hotel dengan tarif yang cukup fariatif dan terjangkau mulai dari yang dibawah 100 ribu hingga yang berkelas di atas 300 ribu. Area parkir juga sangat luas dan memadai, Banyak tersedia rumah makan yang buka hingga 24 jam serta toko-toko penjual souvenir khas Pasir Putih.

Mahkota Dewa : Tanaman Penakluk Kanker

Dunia tanaman obat kini kedatangan pendatang baru yang lumayan hebat. Mahkota dewa namanya. Ia bisa membuat penderita penyakit ringan macam gatal-gatal, pegal-pegal, atau flu, hingga penyakit berat seperti kanker dan diabetes,merasakan kesembuhan.

Mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, mungkin Anda segera berminat menanamnya. Betapa tidak. Tanaman ini ternyata punya khasiat luar biasa. Ia bisa menyembuhkan gangguan kesehatan dari yang ecek-ecek hingga yang nyaris tak ada harapan sembuh. Kalau cuma pegal-pegal, sehari dua hari bakal hilang. Flu? Wah, itu tugas yang juga bisa dibereskan dalam sehari dua hari. Diabetes pun bakal takluk dalam beberapa bulan.

Bagaimana dengan kanker? Meski butuh waktu bulanan, tanaman ini pun sanggup melawannya sampai titik darah penghabisan. Paling tidak itu berdasarkan pengalaman empiris banyak orang, termasuk yang merasa sembuh dari penyakit pada organ hati atau jantung, hipertensi, rematik, serta asam urat.

Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang. Cuma dengan menyeduh teh racik terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah, atau daunnya, bahan obat alami ini pun siap dipakai. Kalau enggak menghendaki rasa pahitnya, kita bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat.

Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta dijuluki makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat, karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara, orang-orang dari etnik Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka.

Dari alergi hingga kanker

Sebagian orang mungkin pernah sekadar melihatnya, sebagian lagi mendengar namanya pun tidak pernah. Wajar bila selama ini sangat sedikit orang tahu mahkota dewa. Apalagi khasiatnya. Bahkan, di banyak lembaga penelitian yang menangani tumbuhan berkhasiat obat belum ditemukan hasil penelitiannya. Sampai saat ini, setidaknya baru dr. Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi, Universitas Gadjah Mada yang telah menelitinya. Itu pun masih terbatas pada pengujian terhadap efek antihistamin atau antialergi. Padahal, kalangan keraton Solo dan Yogyakarta telah lama mengenalnya dan memanfaatkannya sebagai tanaman obat. Beruntung, lama-lama manfaat luar biasa ini bocor ke kalangan awam.

Sekarang, tanaman ini seakan turun dari langit sebagai dewa penyelamat orang sakit. Berbagai kesaksian dikemukakan mereka yang telah merasakan khasiatnya. Dalam buku Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa karya Ning Harmanto, ketua Kerukunan Wanita Tani Bunga Lily, yang menekuni pengobatan dengan mahkota dewa, ada 26 orang yang mengakui keampuhannya atau ditulis berhasil sembuh dari sakitnya berkat mahkota dewa.

Di antara mereka adalah Tuti Ariestyani Winata, yang setelah menjalani operasi pengangkatan kista di rahim, mengalami kemunduran kondisi tubuh. Badannya kurus, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, jari-jari kakinya menggemuk, tekanan darahnya naik-turun, dan Hb-nya sangat rendah.

Beberapa dokter yang dikunjunginya memberikan diagnosis berbeda. Ada yang mendiagnosisnya menderita kanker hati, sirosis hati, dan ada pula yang menyatakan dia menderita hepatitis kronis. Tak kunjung memperoleh kepastian penyakit yang dideritanya, atas saran Ning, Tuti akhirnya mengonsumsi air rebusan daging buah mahkota dewa. Setelah enam bulan, Tuti merasa sembuh dan kondisi tubuhnya membaik kembali.

Selain Tuti, Diana yang berdomisili di Bekasi menyatakan berhasil sembuh dari penyakit kanker di payudara kanannya setelah menjalani operasi dua kali lagi untuk membersihkan kanker di payudara kirinya. Anna Winata di Bogor dan Retno di Bekasi juga merasakan sehat kembali dari sakit kanker rahim berkat mahkota dewa. Ny. Parlan di Balikpapan pun berhasil menormalkan kadar gula darahnya berkat tumbuhan obat ini. Masih banyak lagi contoh keberhasilan yang lain. Sayangnya, yang tidak berhasil tidak pernah terungkap, sehingga tidak bisa diketahui penyakit apa yang tidak mampu dilawan tanaman berbuah merah menyala ini.

Selama ini daun dan buah mahkota dewa dimanfaatkan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, dan eksim. Penyakit tersebut ditandai dengan gejala gatal-gatal, pertanda adanya alergi terhadap agen tertentu yang mendorong sel-sel tubuh mengeluarkan histamin.

Soal kemampuan melawan penyakit kulit ini Sumastuti sudah membuktikannya. Dari penelitian secara in vitro menggunakan usus halus marmot, diketahui, memang benar daun dan buah mahkota dewa mempunyai efek antihistamin. Artinya, tanaman tersebut secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai obat gatal-gatal akibat gigitan serangga atau ulat bulu, eksim, dan penyakit lain akibat alergi.

Penelitian lain masih kita tunggu untuk membuktikan khasiat luar biasa seperti yang dirasakan beberapa orang di atas. Namun, cerita dari mulut ke mulut rupanya sudah membuat orang, terutama yang sakit berat dan umumnya hampir putus harapan, percaya. Maka, orang pun mulai beramai-ramai mencari bagian berkhasiat mahkota dewa. Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang melihat wabah ini sebagai peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.

Dijadikan teh

Menanam mahkota dewa memang bukan perkara sulit. Tumbuhan, yang bisa hidup baik pada ketinggian 10 - 1.000 m dpl., ini bisa ditanam dari biji atau hasil cangkokan. Meski penanamannya bisa di dalam pot atau langsung di tanah, pertumbuhannya akan lebih baik bila ditanam di tanah. Tanaman dari biji biasanya sudah berbuah pada umur 10 - 12 bulan. Yang berasal dari cangkokan, mestinya berbuah lebih cepat.

Buah inilah bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat alami, di samping daun dan batang. Dari ketiga bagiannya, yakni kulit dan daging buah, cangkang (batok biji), serta biji, yang dimanfaatkan umumnya kulit dan daging buah serta cangkangnya. Buah muda berwarna hijau dan yang tua berwarna merah cerah.

Khasiat buah muda dan tua sama saja, jelas Ning. Sayang, senyawa apa yang terkandung dalam bagian-bagian buah, masih belum terungkap secara detil. Cuma, Hutapea dkk. (1999), seperti dikutip Sumastuti, menyatakan, dalam daun dan kulit buah makuto dewo terkandung senyawa saponin dan flavonoid, yang masing-masing memiliki efek antialergi dan antihistamin.

Ning menulis, dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa sepet-sepet pahit. Sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Apa penyebabnya, belum diketahui dengan pasti. Karenanya, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam keadaan segar.

Cangkangnya memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah. Bagian ini juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dapat mengakibatkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Namun, setelah diolah, bagian ini lebih mujarab ketimbang kulit dan daging buah. Ia dapat mengobati penyakit berat macam kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati.

Ada alasan mengapa biji mahkota dewa tidak dikonsumsi. �Bijinya sangat beracun. Kalau mengunyahnya, kita bisa muntah-muntah dan lidah mati rasa,� tambah Ning. Karenanya, bagian ini cuma digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit.

Sudah tentu untuk menjadikan daging buah atau cangkangnya sebagai obat, perlu pengolahan terlebih dulu. Bisa dijadikan buah kering, teh racik, atau ramuan instan. Namun, yang sering dilakukan adalah dengan menjadikannya teh racik dan ramuan instan.

Bagian lain yang bisa dijadikan obat adalah batang dan daun. Menurut Ning dalam bukunya, batang mahkota dewa secara empiris bisa mengobati kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa menyembuhkan lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Cara memanfaatkan daun adalah dengan merebus dan meminum airnya.

Jangan kaget. Begitu minum ramuan mahkota dewa, kita segera merasakan serangan kantuk. Efek ini normal. Efek lainnya adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini dianjurkan untuk minum air lebih banyak. Untuk konsumsi selanjutnya, takaran mahkota dewa perlu dikurangi. Jika masih tetap mabuk, sebaiknya untuk sementara hentikan dulu. Di samping efek buruk tadi ternyata masih ada efek baik-nya. Psst … kadang-kadang kaum pria ada yang libidonya meningkat, bisik Ning.

Menurut Ning, dalam proses menyembuhkan penyakit dalam atau penyakit serius macam kanker rahim, setelah pasien mengonsumsi seduhan mahkota dewa badannya bisa merasakan panas-dingin, bahkan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah berbau busuk. Ini merupakan proses pembersihan penyakit, tulis Ning.

Penggunaannya bisa dalam bentuk ramuan tunggal bisa pula ramuan campuran. Pencampuran dengan tumbuhan obat lain dimaksudkan untuk memperkuat khasiatnya dan menetralisir racun. Juga untuk mengurangi rasa tidak enaknya, tutur Ning, yang mengaku sering melayani resep yang ditulis beberapa dokter.

Upaya penyembuhan menggunakan ramuan mahkota dewa, menurut Ning, tidak bisa cepat membuahkan hasil. Pengobatannya perlu dilakukan beberapa kali. Bahkan untuk penyakit berat yang kronis perlu waktu lama. Yang perlu diperhatikan adalah takaran penggunaannya mesti tidak melebihi yang dianjurkan. Kalau takarannya berlebih, pengaruh yang tidak diinginkan bisa muncul.

Mesti diingat, wanita hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Seperti dikutip Ning, Sumastuti juga telah membuktikan mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga memperlancar proses persalinan. Ini bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.

Yang tak kalah penting, pesan Ning, dalam menggunakan ramuan mahkota dewa kita dianjurkan menyugesti atau menyakinkan diri bahwa ramuan ini manjur, berdoa untuk kesembuhan kita, dan tetap mengunjungi dokter untuk mengetahui perkembangan kesehatan kita.@ (I Gede Agung Yudana)

Sumber : http://www.mahkotadewa.com/Indo/info/artikel/intisari0102.htm

Buah Naga

Buah naga (Inggris: pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatannamun sekarang juga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Buah ini juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia utara dan Tiongkok selatan. Hylocereus hanya mekar pada malam hari.

Pada tahun 1870 tanaman ini dibawa orang Perancis dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Oleh orang Vietnam dan orang Cina buahnya dianggap membawa berkah. Oleh sebab itu, buah ini selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar. Warna merah buah jadi mencolok sekali di antara warna naga-naga yang hijau. Dari kebiasaan inilah buah itu di kalangan orang Vietnam yang sangat terpengaruh budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Thang loy orang Vietnam ini kemudian diterjemahkan di Eropa dan negara lain yang berbahasa Inggris sebagai dragon fruit (buah naga).

Macamnya

Nama buah naga diberikan pada buah-buah yang dapat dimakan dari tumbuhan:

Morfologi

Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, duri dan bunga serta buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang di dalam tanah di batang atas sebagai akar gantung. Akar tumbuh di sepanjang batang di bagian punggung sirip di sudut batang. Di bagian duri muncul ini akan tumbuh bunga yang bentuknya mirip bunga Wijayakusuma. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik seekor naga. Oleh sebab itu, buah ini disebut buah naga. Batangnya berbentuk segitiga, durinya pendek sekali dan tidak mencolok, sampai mereka dianggap "kaktus tak berduri". Bunganya mekar mulai senja, kalau kuncup bunga sudah sepanjang 30 cm. Itulah saatnya kita mengundang para tetangga dan handai taulan pencinta bunga untuk menyaksikan mekarnya buah naga.Mahkota bunga bagian luar yang krem itu mekar pada pukul sembilan (kira-kira), lalu disusul mahkota bagian dalam yang putih bersih, meliputi sejumlah benangsari yang kuning. Bunga seperti corong itu akhirnya terbuka penuh pada tengah malam. Itulah sebabnya ia tersiar luas ke seluruh dunia sebagai night blooming cereus. Sambil mekar penuh ini, ia menyebar bau yang harum. Ternyata bau ini disebar ke seluruh penjuru angin malam, untuk menarik para kelelawar, agar sudi kiranya datang bertandang untuk menyerbuki bunga itu. Dalam gelap gulitanya hutan belantara malam, mata kelelawar memang kurang awas, tetapi hidungnya "tajam"

Pembudidayaan buah naga


Orang biasanya memperbanyak tanaman dengan cara setek atau menyemai biji. Tanaman akan tumbuh subur jika media tanam porous (tidak becek), kaya akan unsur hara, berpasir, cukup sinar matahari dan bersuhu antara 38-40o C. Jika perawatan cukup baik, tanaman akan mulai berbuah pada umur 11- 17 bulan. Kota Malang berada 400-700 dpl, sangat cocok untuk budidaya buah naga merah. Walaupun memiliki udara yang cukup sejuk, namun mendapatkan sinar matahari yang cukup merupakan modal untuk pertumbuhan buah naga merah . Buah naga dapat berkembang dengan kondisi tanah dan ketinggian lokasi apapun, namun tumbuhan ini cukup rakus akan unsur hara, sehingga apabila tanah mengandung pupuk yang bagus, maka pertumbuhannyapun akan pesat sekali. Dalam waktu 1 tahun, tanaman bisa mencapai ketinggian 3 meter lebih. Berdasarkan beberapa sumber, buah naga belum banyak dibudidayakan di Indonesia, sementara ini data yang diperoleh baru daerah : Mojokerto, Jember, Malang, Pasuruan, Bayuwangi, dan Kulon Progo. Dengan luas areal masing-masing tidak lebih dari 3 ha

Manfaat Buah Naga


Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Memang belum ada penelitian pasti tentang manfaat buah ini. Namun, mengingat asalnya dari jenis buah kaktus, kita percaya buah naga mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium dan karbohidrat. Yang pasti buah naga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan.

Khasiat Kesehatan Buah dan Sayur


*) Disarikan dari Buku Terapi Jus Buah dan Sayur karangan Dr.Titi Sekarindah Ms,Sp GK


Hidup sehat alami merupakan impian semua orang, juga anda tentunya. Lagipula, siapapun tidak ingin dirinya menderita sakit bukan?

Untuk sehat tubuh memerlukan vitamin dalam pola makan yang seimbang. Tanpa vitamin dan mineral, proses pemanfaatan zat gizi yang dikonsumsi tidak dapat optimal. Vitamin utama dalam buah atau sayur yang sukar digantikan oleh makanan lain adalah Vitamin C, asam folat dan golongan karoten, terutama betakaroten yang akan bekerja sebagai anti oksidan.

1. Anggur : mencegah penyakit kanker, mencegah konstipasi dan menurunkan kadar kolesterol

2. Apel : menurunkan kadar kolesterol dan gula darah

3. Alpukat : baik untuk meningkatkan berat badan karena kalorinya tinggi

4. Belimbing : kaya akan potasium, cocok untuk mengontrol tekanan darah tinggi dan mencegah sariawan

5. Bengkuang : memperlancar BAB, mencegah dehidrasi, menurunkan kadar kolesterol darah dan menurunkan berat badan

6. Buah Naga : sebagai anti oksidan, anti kanker, menyembuhkan radang sendi, meningkatkan kesehatan mata dan mencegah konstipasi

7. Delima : anti oksidan, anti diare dan meningkatkan berat badan.

8. Jambu biji : anti oksidan, anti kanker dan baik untuk penderita demam berdarah

9. Jeruk bali : anti oksidan, anti kanker, menurunkan kadar kolesterol, mengobati sariawan dan menjaga kesehatan kulit

10. Jeruk keprok : anti oksidan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

11. Jeruk nipis : anti oksidan, anti kanker, mengobati sariawan, influensa, batuk dan mengencerkan dahak

12. Jeruk sunkist : meningkatkan kekebalan tubuh, memperkuat limfa, menurunkan kolesterol serta mengobati infeksi dan demam

13. Kesemek : menurunkan kadar kolesterol jahat

14. Kiwi : anti oksidan, anti kanker, mencegah influenza, mengobati sariawan dan meningkatkan daya tahan tubuh

15. Lengkeng : memperkuat limfa, mengendurkan syaraf, memulihkan tenaga, menjaga kesehatan kulit dan memperlancar saluran pencernaan

16. Mangga : anti oksidan, anti kanker, menambah kalori, meningkatkan berat badan dan mencegah konstipasi

17. Markisa : anti oksidan, anti kanker, serta menjaga kesehatan kulit dan mata.

18. Melon : anti oksidan, anti kanker, menambah kalorai, mengobati dehidrasi dan melancarkan BAB

19. Nanas : baik dikonsumsi untuk orang yang menderita radang sendi, hati2 untuk penderita diabetes (kadar gulanya tinggi).

20. Mengkudu : anti oksidan, anti kanker, menyembuhkan sariawan, influenza, memperbaiki kesehatan mata, kulit dan tulang serta memudahkan BAB

21. Pepaya : untuk penderita sembelit (susah BAB). Nilai gizinya tinggi

22. Pir : cocok sebagai selingan buat penderita diabetes karena indeks glikemiknya rendah. Mengatasi dehidrasi, mencegah konstipasi dan melancarkan BAB

23. Pisang : kandungan karbohidratnya tinggi, sebaiknya tidak dikonsumsi oleh penderita diabetes karena karbohidratnya mudah diserap dan segera dapat menaikkan kadar gula darah. Baik dikonsumsi oleh penderita hipertensi, pada saat diare (tidak dianjurkan untuk penderita gagal ginjal)

24. Rambutan : dapat meningkatkan berat badan dan mempercepat pemulihan dari sakit

25. Salak : menambah kalori dan menyembuhkan diare

26. Sawo : untuk meningkatkan kalori terutama saat baru sembuh dari sakit dan mengobati diare.

27. Semangka : kandungan gizi sangat tinggi, tidak dianjurkan untuk penderita diabetes. Sebagai anti oksidan, mencegah kanker prostat dan mencegah dehidrasi

28. Sirsak : meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlancar pencernaan

29. Srikaya : menaikkan berat badan , mencegah konstipasi dan baik diberikan pada saat penyembuhan penyakit

30. Stroberi : untuk memperbaiki limfa, mengobati infeksi saluran kemih, meningkatkan sekresi air liur dan cairan tubuh. Juga sebagai anti oksidan, anti virus dan anti kanker.

31. Tebu : memudahkan kerja kelenjar ludah dan air seni serta memperkuat ginjal

32. Terong belanda : sebagai anti oksidan, anti kanker serta untuk kesehatan mata dan kulit


Khasiat Kesehatan Sayur


1. Asparagus : anti oksidan, anti kanker, menjaga kesehatan tulang, mencegah dan mengobati anemia, mengobati hipertensi, serta melancarkan BAB

2. Bayam : gizi sangat tinggi, anti oksidan tinggi, mencegah penuaan dini dan mengatasi anemia. Jika dibuat jus harus segera dikonsumsi. Jika dimasak jangan terlalu lama karena kandungan gizinya akan rusak.

3. Bit : anti oksidan, anti kanker, menjaga kesehatan mata dan meningkatkan kadar hemoglobin

4. Brokoli : anti oksidan, anti kanker

5. Buncis : menurunkan kadar kolesterol, anti oksidan dan anti kanker

6. Selederi : menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol, memperlambat penuaan, anti oksidan, anti kanker dan mengobati dehidrasi

7. Jahe : mengurangi gejala radang sendi, migren, radang tenggorokan dan kolesterol tinggi

8. Kacang Panjang : baik untuk penderita diabetes, melancarkan BAB dan menurunkan kadar kolesterol

9. Kedelai : Baik untuk penderita gagal ginjal kronis, baik untuk wanita menopouse, menurunkan kadar kolesterol dan memperlambat proses penuaan

10. Kelapa : menambah kalori, mencegah konstipasi dan menjaga kesehatan kulit

11. Kembang Kol : anti oksidan, anti kanker, melancarkan BAB

12. Kol : anti oksidan, anti kanker, melancarkan BAB dan menghambat pertumbuhan tumor

13. Lettuce atau daun salad : mengurangi rasa sakit, khususnya sakit kepala, sebagai anti oksidan dan anti kanker

14. Mentimun : menurunkan tekanan darah tinggi, mengobati dehidrasi dan menjaga kesehatan kulit

15. Tauge : tidak baik untuk penderita asam urat. Menjaga kesehatan kulit, memperlambat proses penuaan dan anti kanker

16. Tomat : mencegah kanker (terutama kanker prostat), anti oksidan, menjaga kesehatan mata dan kulit.

17. Wortel : hati2 untuk penderita diabetes karena kadar gulanya tinggi.mengandung serat tinggi, anti kanker, menjaga kesehatan mata, kulit, tulang serta melancarkan BAB



Mengenal Keluarga Terong

terongBanyak mitos mengatakan kalau terong (Solanum Melongena L) membuat badan menjadi loyo. Mitos ini harus dikikis habis. Terong justru memiliki banyak khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan.

terong2Penelitian ilmiah punya fakta lain, terong dapat mencegah kanker, kaya serat, mengandung vitamin (A, B & C) dan mineral penting lainnya. Berbagai penyakit seperti wasir, rematik, batuk, penyakit kulit, bahkan raja singa juga bisa disembuhkan dengan sayuran “ajaib” ini.

Terong Telunjuk
Orang menyebutnya terong telunjuk karena bentuknya memang mirip jari telunjuk. Warnanya hijau dan tidak terlalu besar. Cocok diolah menjadi semur, balado atau dipecak terong.

Terong Gelatik Ungu
Sebagian orang menyebutnya terong lalap karena biasanya di makan mentah sebagai lalapan. Rasanya tidak pahit dan aromanya tidak terlalu langu. Bentuknya bulat sebesar bola bekel dan berwarna ungu.

Gelatik Putih
Bentuk dan besarnya sama dengan gelatik ungu. Perbedaannya terletak pada warna kulit yang hijau dengan semburat putih pada bagian ujung buah. Cocok sebagai lalapan atau di olah menjadi terancam dan karedok.

Terong Kopek
Ada dua jenis terong kopek, berwarna hijau dan
Ungu. Terong ini paling banyak dikonsumsi masyarakat sebagai bahan sayur lodeh, di semur atau dibuat balado.

Terong Jepang
Banyak digunakan masyarakat Jepang sebagai bahan membuat tempura sayuran. Bentuknya mirip dengan terong kopek namun dengan warna lebih gelap(ungu tua) dan lebih kecil.

Tekokak & Leunca
Tekokak(Solanum torvum)&leunca (solanum nigrum), keduanya termasuk keluarga terong namun bentuknya mini. Masyarakat sunda mengkonsumsinya sebagai lalap, dimasak dengan oncom/taoco atau sebagai campuran botok.

Terong Putih
Terong pendatang baru yang belum banyak di pasaran. Bentuknya hampir sama dengan terong Jepang namun sedikit lebih besar. Warna kulit putih bersih, sangat lezat diolah sebagai tumisan, diisi daging atau campuran olahan pasta.

Terong Belanda
Terong Belanda(Cyphomandra betacea) lebih banyak dikonsumsi sebagai buah, baik di makan segar, dibuat sirup atau dijuice. Bentuknya oval sebesar telur. Sewaktu muda warnanya kuning dan seiring dengan matangnya buah, kulit buah berubah menjadi keunguan. Terong ini rasanya asam menyegarkan.

Didi Petet Pria Penyendiri di Atas Jermal

Bagi seorang aktor, mendapatkan peran yang berbeda dalam setiap filmnya sungguh menjadi tantangan. Macam yang dialami oleh Didi Petet saat bermain dalam film Jermal misalnya. Lokasinya saja tak terbayangkan, di atas panggung besar sekitar 1 jam dari lepas pantai. Apalagi perannya bukan?

”Pertama kali saya ditawari berperan di film ini tahun 2006,” tutur pemeran sosok binan Emon dalam film Catatan Si Boy ini. ”Waktu dengar judulnya Jermal saya langsung setuju, padahal belum dengar ceritanya apa. Karena buat saya, jermal itu sesuatu. Sudah pasti film ini akan dibikin jadi sesuatu,” lanjutnya lagi.
Jermal yang dimaksud adalah tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan. Agaknya, tempatnya sendiri sungguh memikat Didi untuk bergabung. Perihal porsi peran menjadi nomor dua. ”Buat saya peran besar atau kecil tidak masalah. Ternyata peran saya besar, perannya serius,” cerita Didi.
Sosok Johar yang diperankannya adalah pekerja berpenampilan berewokan dan kucel di jermal itu. Suatu hari dia kedatangan bocah yang mengaku sebagai anaknya, namun Johar tak mau mengakui fakta itu. ”Buat saya, sosok Johar pengecut, lari dari kenyataan. Dia tidak bisa membina rumah tangga, sehingga terjadi sesuatu,” seloroh pria bernama asli Didi Widiatmoko ini.
Sulitkah Didi melakoni sosok pria penyendiri macam Johar? ”Tidak jadi persoalan. Saya bisa memerankan tokoh ini karena banyak tokoh seperti itu di kiri-kanan saya, dalam kehidupan nyata,” tuturnya santai.
Tampak jelas jika Johar memang peran watak yang menantang. Seperti apa sih Didi memainkannya dalam film arahan trio Ravi Bharwani, Rayya Makarim dan Utawa Tresno ini?

Film JERMAL

Satu lagi karya anak negeri yang akan mengangkat kisah pergelutan hidup anak Indonesia yang jauh dari kemewahan dan pesona dunia. Setelah “Laskar Pelangi” karya Riri Riza yang berhasil mendobrak perfilman Indonesia dengan kelarisannya dalam menceritakan realita hidup anak2 pulau Belitong dalam kesederhanaan keseharian mereka. Sekarang akan segera beredar film berjudul “Jermal”yang hampir sama seperti “Laskar,” kembali mengangkat perjuangan hidup anak2 yang berada di tempat yang jauh dari kesan kebahagiaan yang harusnya dikecap oleh mereka, bahkan bisa dibilang mungkin keadaan dalam film “Jermal” ini lebih miris dari apa yang dihadirkan oleh “Laskar Pelangi” tempo hari. Jermal sendiri adalah kata untuk mengungkapkan sebuah panggung lepas pantai serupa dengan anjungan minyak lepas pantai mini, terdiri dari balok dan papan kayu yang diikat jadi satu dan sebuah gubuk terbuat dari besi di atasnya. Ini adalah tempat bagi para nelayan tinggal sambil mengerjakan pekerjaan harian mereka yaitu menjaring ikan. Serangkaian jaring mengarahkan ikan menuju jermal, ikan2 yang ditangkap biasanya dikumpulkan dalam sebuah jaring besar di bawah jermal.
Produksinya untuk film ini sendiri dilaksanakan di sebuah Jermal asli di perairan Pantai Cermin Sumatera Utara. Dibintangi oleh beberapa aktor kawakan seperti Didi Petet, Yayu Unru, M. Iqbal dan juga layaknya “Laskar,” semua aktor anak-anak bukanlah pemain profesional, melainkan anak-anak yang dipilih dari komunitas lokal. Tim casting harus dengan sabar keluar masuk sekolah, kampung, RT, gang-gang sempit, berbagai jermal, asrama dan pesantren di daerah Medan dan sekitarnya untuk mencari aktor2 cilik potensial untuk tampil disini.Beberapa anak dampingan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak Medan (PKPA) juga dicasting bersama 5000-an anak dan remaja di Sumut. Sampai akhirnya terpilihlah Iqbal S. Manurung, Chairil A. Dalimunthe, Febri Hansah Pulungan sebagai tiga tokoh anak utama Jaya, Gion dan Topan disini. Film “Jermal” ini ditulis oleh tiga penulis naskah yaitu Orlow Seunke yang juga merangkap sebagai Produser, Ravi Bharwani dan Rayya Makarim yang juga bertugas sebagai sutradara bersama Utawa Tresno. Film ini direncanakan segera mengisi jadwal tonton di bioskop2 tanah air mulai tanggal 12 Maret 2009.








Sinopsis:
Setelah kematian ibunya, Jaya (12) dikirim ke ayahnya, Johar, yang bekerja sebagai pengawas di sebuah jermal (tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan). Johar terkejut karena ia tak pernah tahu bahwa ia punya seorang anak. Ia tak mau mengakui Jaya sebagai anaknya. Namun ia tak mungkin membawa Jaya kembali ke daratan karena masa lalunya yang kelam; oleh karena itu Johar terpaksa menerima Jaya sebagai pekerja jermal.
Walaupun dihadapkan dengan penolakan ayahnya dan gangguan serta ejekan anak-anak pekerja jermal, Jaya tak mau menyerah pada nasib. Ia melepaskan harapan akan pengakuan ayahnya dan memutuskan untuk mempelajari keterampilan serta sikap yang diperlukan untuk bertahan hidup di atas jermal.
Seiring berjalannya waktu, Jaya berubah menjadi seperti anak-anak jermal yang lain: survivor yang tangguh dan keras. Sementara Johar terpaksa menghadapi dan menerima masa lalunya. Akhirnya, baik Johar maupun Jaya menyadari bahwa mereka terikat oleh masa lalu, dipertemukan di ruang sempit di mana mereka berada, serta terhubung oleh kebenaran yang tak mungkin dihindari.








Didi Petet yang sepanjang perjalanan karirnya didunia film telah mencoba berbagai jenis peran ini, dalam film “Jermal”, justru untuk pertama kalinya Didi mendapatkan peran antagonis.
“Saya tertarik pada film ini karena saya tidak pernah memerankan tipe karakter yang seperti ini sebelumnya: Egois, kejam – benar2 antagonis deh.” Seperti katanya pada The Jakarta Post. “Saya mencoba untuk mengekspresikan karakter ini lebih dominan dari gesturnya daripada dialog. Proses syutingnya pun sendiri termasuk menantang karena sebagian besar dikerjakan ditengah2 lautan luas.” Lanjut aktor senior yang memang sudah tidak diragukan lagi kemampuan aktingnya ini.

Film ini minim dialog karena para tokoh utama terbebani berbagai konflik batin mereka. Mereka tidak mengungkapkan perasaan mereka lewat banyak bahasa, tapi lewat gerak tubuh yang tak terlalu kentara. Ketakmampuan para tokoh mengungkapkan perasaan ini mencuat lewat katakata yang tak terselesaikan atau adanya jeda-jeda canggung di antara dialog. Ini justru membantu membangun ketegangan yang semakin nyata dan intensitas hubungan si ayah dan anak dalam film ini. Musik hanya sebentar-sebentar muncul agar intensitas emosional itu tak terganggu. Suara-suara alami seperti ombak, burung dan lain-lain suara dari kondisi cuaca yang ada digunakan untuk menyuarakan konteks dramatik. Begitulah kira2 gambaran yang coba dihadirkan para pembuat film “Jermal” ini.

Karena jermal adalah latar sosial sungguhan, lokasi ini menyuguhkan kesan otentik dan dapat diterima sebagai kenyataan sehari-hari. Bangunan jermal yang padat dan terkungkung, tertanam dalam di tengah-tengah laut luas melambangkan kisah film ini: seorang laki-laki yang terperangkap dalam hidupnya, terasing secara fisik dan mental, namun dipaksa untuk membuka dirinya akibat pertemuannya dengan anaknya yang belum pernah dilihatnya. Pertemuan itu membuatnya sadar bahwa kehidupan, seperti halnya laut yang tak bisa ditebak, dan kebenaran, seperti halnya masa lalunya, tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Sumber : Official film site www.Jermal.com
Foto by : ECCO Films Indonesia